Climatechange

Pusat Informasi Perubahan Iklim

Pelatihan Pengembangan Sistem Usaha Tani Terpadu

Sejak isu Pemanasan Global mencuat dan menjadi perbincangan hangat para pihak di seluruh dunia, maka strategi adaptasi dan mitigasi terhadap dampak isu ini terus dimunculkan. 

Salah satu dampak paling fenomenal dari isu ini adalah terjadinya Perubahan Iklim. Akibatnya banyak sekali bencana yang terjadi di seluruh belahan bumi. Meningkatnya permukaan air laut, mencairnya es di kutub utara, hingga semakin seringnya terjadi banjir dan kekeringan panjang adalah beberapa contoh akibat terjadinya Perubahan Iklim. 

Implementasi dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim menjadikan seluruh arahan pembangunan di seluruh dunia selalu dikaitkan dengan isu ini. Sehingga muncul beberapa konsep seperti : Pembangunan Rendah Karbon/Emisi, Pembangunan Hijau, Ekonomi Hijau, dll. Semua konsep ini berada dalam satu irisan, yakni pembangunan yang berkelanjutan.  Di tingkat lokal, pembangunan berkelanjutan juga menjadi bagian dari konsep pembangunan pemerintah Provinsi Jambi. Konsep ini tercermin dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jambi (RPJMD) 2011-2015,  dimana dalam pembangunan Provinsi Jambi selain fokus pada pro growth, pro job, dan pro poor, juga meletakkan pro environment sebagai fokus pembangunan dengan konsep geen economy. 

Praktek pembangunan berkelanjutan diterapkan pada seluruh bidang. Sebagai contoh, di bidang pertanian muncul istilah pertanian berkelanjutan. Istilah ini lahir sebagai respon atas upaya memadukan keberlanjutan usaha tani dengan upaya pengurangan dampak perubahan iklim. Menurut Reintjes dkk (1992) pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang secara ekologis dapat dipertanggungjawabkan, secara ekonomi dapat dijalankan, secara sosial berkeadilan, berperikemanusiaan serta dapat menyesuaikan diri. Untuk istilah pertanian berkelanjutan ini, sebagian besar masyarakat tani sudah cukup lama mendengarnya, tetapi praktek pelaksanaannya seperti apa, tidak banyak yang tahu.

Praktek pertanian berkelanjutan yang sudah dikembangkan dan dilakukan oleh masyarakat tani di Indonesia adalah melalui Sistem Usaha Tani Terpadu. Menurut Prajitno (1992) sistem usaha tani terpadu sebenarnya sudah lama dipraktekkan oleh masyarakat tani. Sistem dilakukan sebagai ekspresi dari usaha mereka menghadapi tantangan lingkungan yang ada untuk bertahan hidup. Hanya sayang pengembangannya sepotong-sepotong, tidak terintegrasi. Munculnya sistem usaha tani terpadu ini juga dikarenakan adanya faktor pembatas dalam usaha peningkatan produksi pertanian di tingkat petani. Sebagai contoh adalah lahan.  Kunci upaya peningkatan produksi akan terletak pada adanya interaksi antara berbagai bentuk usaha tani yang saling mendukung sifatnya.

 

Pengertian Sistem Usaha Tani Terpadu (integrated farming system) berdasarkan kutipan dari berbagai sumber adalah suatu sistem usaha tani yang didasarkan pada konsep daur-ulang  biologis (biological recycling) antara usaha pertanaman, perikanan dan peternakan. Usaha tani berbasis tanaman memberikan hasil samping berupa pakan bagi usaha tani perikanan dan peternakan. Demikian pula sebaliknya, usaha perikanan dan peternakan memberikan hasil samping berupa pupuk bagi usahatani tanaman. Usaha perikanan menghasilkan pakan bagi peternakan, sedangkan usaha peternakan menghasilkan pupuk dan pakan untuk perikanan.

Contoh pengembangan sistem usaha tani oleh Kementrian Pertanian adalah di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Sistem usaha tani terpadu dilakukan melalui jagung – sapi potong di lahan sawah, ternyata mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 40% serta efisiensi penggunaan hijauan makanan ternak sampai 4–5 kali lipat. Dalam program tersebut, setiap 5 sapi potong, dalam waktu 4 bulan menghasilkan 6,6 ton kotoran sapi, yang setelah diproses menghasilkan 2,6 ton kompos kandang matang, yang mampu memenuhi kebutuhan pupuk organik bagi 1 hektar tanaman jagung. (Anonim, 2009b). Hanya dalam program ini gas metana yang dihasilkan rupa-rupanya belum dimanfaatkan secara optimal.  

Contoh keberhasilan lainnya adalah dilakukan oleh Kelompok Tani Subak Guama di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali, yang melibatkan 544 petani pada luasan sawah 179 hektar (Kompas, 24 Oktober 2008). Mereka melakukan perbaikan rotasi tanaman dari padi-padi-padi menjadi padi-palawija (tumpangsari) padi. Kelompok ini juga memelihara 700 ekor sapi dan ratusan ekor babi, yang kotorannya, secara kelompok diolah menjadi pupuk organik. Dari usaha ini, penggunaan pupuk urea dapat dikurangi dari 225 Kg/Ha menjadi 150 Kg/Ha, sedangkan rata-rata produksi padi mampu ditingkatkan dari 5 Ton/Ha GKP (Gabah Kering Panen) menjadi 8 Ton/Ha GKP.

Di Provinsi Jambi, khususnya wilayah yang menjadi lokasi kegiatan pemberdayaan masyarakat lokal di dalam dan di sekitar kawasan hutan oleh KKI WARSI, terdapat beberapa bentuk pertanian yang dikembangkan. Ada Hompongan yang dikembangkan oleh Kelompok Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Wanatani yang dikembangkan oleh masyarakat di desa penyangga TNBD. Komoditi Tanaman Bertingkat yang dikembangkan oleh Kelompok Pengelola Hutan Desa di Kabupaten Bungo. Serta praktek Climate Smart Agriculture (CSA) yang dikembangkan oleh masyarakat desa lahan gambut di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. 

Keselurahan bentuk sistem pertanian yang dilakukan masyarakat tersebut masih bersifat usaha pertanaman atau berbasis tanaman. Sedangkan usaha perikanan dan peternakan yang dilakukan masih belum saling mendukung dengan usaha pertanaman tersebut ataupun sebaliknya. Dengan kata lain bahwa sistem usaha tani terpadu berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan produksi dan pendapatan, namun belum dilakukan atau dikembangkan.

Sebagai lembaga yang konsen terhadap upaya pengembangan praktek-praktek pembangunan berkelanjutan, salah satu langkah strategis berupa peningkatan kapasitas petani. Dalam rangka memberikan dukungan peningkatan kapasitas bagi masyarakat lokal tentang pengembangan sistem usaha tani, KKI WARSI dengan dukungan dari Badan Pelaksana REDD+ Indonesia akan menyelenggarakan pelatihan dengan tema : Pelatihan Pengembangan Sistem Usaha Tani Terpadu Terpadu  Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga dan Mitigasi Perubahan Iklim Bagi Masyarakat Lokal. 

PUSAT INFORMASI PERUBAHAN IKLIM

Mengupayakan terciptanya pembangunan dan pengembangan azas-azas konservasi berbasis masyarakat yang berkeadilan, berkesetaraan, partisipatif, keterbukaan dan berkelanjutan sehingga mampu memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup manusia masa kini tanpa mengancam pemenuhan kebutuhan hidup generasi berikutnya.

 

Photo Gallery

HHBK4.jpg

Visitor

Today 5

Week 27

All 1128

Loading ...