Climatechange

Pusat Informasi Perubahan Iklim

Pelatihan Peningkatan Taraf Hidup Suku Adat Marginal

Kemerdekaan negara Indonesia yang sudah dirasakan sejak 69 tahun yang lalu belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh rakyat. Bahkan kehadiran negara dalam beberapa lokasi masih belum dinikmati oleh masyarakatnya. Komunitas adat marginal merupakan salah satu kelompok yang belum merasakan sepenuhnya arti dari kemerdekaan tersebut. Adapun kelompok ini di sumatera bagian tengah seperti Orang Rimba, Orang Talang Mamak dan Orang Batin Sembilan. Masih banyak kebijakan yang kurang berpihak pada kelompok seperti ini. Rasa aman, nyaman, rasa terlindungi dari negara, belum didapatkan oleh suku adat marginal ini. 

 

Beberapa anggota Suku Adat Marginal yang tersebar di Sumatra Tengah ini (Jambi, Sumsel, Riau) masih memegang adat istiadat mereka. Dalam kehidupan sehari-hari kelompok Suku Adat Marginal sangat tergantung dengan hutan sebagai tempat hidup dan penghidupan mereka. Percepatan pembangunan yang dilakukan pemerintah dengan program transmigrasi dan perkebunan yang berbasiskan pembukaan hutan telah menghilangkan ruang hidup dan penghidupan Suku Adat Marginal ini. Disisi lain  kelompok Suku Adat Margial masih mempertahankan hidup dengan cara-cara tradisional seperti berburu dan meramu. 

Hilangnya ruang hidup dan penghidupan Suku Adat Marginal telah memaksa kelompok komunitas ini untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Sayangnya, minimnya pengetahuan dan kurangnya daya adaptasi terhadap budaya luar serta modernisasi kerapkali menimbulkan konflik di sekitar lingkungan Suku Adat Marginal ini. Perebutan sumberdaya yang sangat sedikit membuat kompetisi untuk pengelolaan sumberdaya tersebut semakin tinggi. Konflik ini bisa terjadi dalam internal mereka ataupun antara Suku Adat Marginal dengan masyarakat mayoritas diluar mereka. Dampak dari konflik yang terjadi seringkali menimbulkan korban jiwa dari pihak Suku Adat Marginal. 

Terkait perubahan iklim, Suku Adat Marginal ini berposisi pada penerima dampak. Padahal jika menilik pada budaya hidup mereka sehari-hari, perilaku mereka yang hidup dengan cara-cara tradisional merupakan perilaku yang pro terhadap pembangunan berkelanjutan. Dengan perilaku tradisional tersebut, sangat minim sekali kontribusi mereka terhadap penambahan emisi karbon. 

Sebagai contoh, pada Orang Rimba yang hidup di Taman Nasional Bukit Dua Belas dampak dari perubahan iklim yang sangat mereka rasakan adalah terjadinya perubahan musim raya buah-buahan. Konon setiap tahunnya mereka menikmati musim raya buah-buahan yang mereka istilahkan sebagai Petahunon Godong. Sejak sepuluh tahun terakhir, musim raya buah ini tidak terjadi setiap tahun. Terkadang tiga tahun berturut-turut musim buah tidak terjadi. Sejatinya, musim raya buah ini merupakan salah satu periode waktu dimana pendapatan Orang Rimba bertambah dengan menjual buah-buahan tersebut. 

Pada sisi lainnya, saat ini sebagian besar kehidupan Suku Adat Marginal telah terintegrasi dengan komunitas desa yang berada di sekitarnya. Namun, pada umumnya aktivitas sosialnya Suku Adat Marginal terpisah dengan masyarakat desa. Hubungan yang terbangun dengan komunitas diluar mereka hanya bersifat hubungan ekonomi saja. Sampai saat ini hanya beberapa anggota kelompok saja yang mendapatkan pengakuan dan masuk dalam administrasi desa. 

Berdasarkan kondisi di atas, KKI WARSI melalui dukungan dari UNDP akan melaksanakan kegiatan pelatihan. Pelatihan ini berkaitan dengan upaya peningkatan ekonomi dan pembentukan jaringan Suku Adat Marginal, serta hubungannya dengan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim bagi Suku Adat Marginal (SAM) ini.

PUSAT INFORMASI PERUBAHAN IKLIM

Mengupayakan terciptanya pembangunan dan pengembangan azas-azas konservasi berbasis masyarakat yang berkeadilan, berkesetaraan, partisipatif, keterbukaan dan berkelanjutan sehingga mampu memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup manusia masa kini tanpa mengancam pemenuhan kebutuhan hidup generasi berikutnya.

 

Photo Gallery

HHBK4.jpg

Visitor

Today 2

Week 7

All 1612

Loading ...