Climatechange

Pusat Informasi Perubahan Iklim

Pelatihan Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen HHBK Orang Rimba

Hutan berfungsi mengubah Karbon Dioksida (CO2) menjadi Oksigen (O2). Inilah yang menjadikan hutan disebut sebagai paru-paru dunia. Hutan juga memiliki fungsi besar lainnya, seperti sebagai pengatur tata air (hidrologis), pencegah erosi dan banjir, tempat hidup beraneka ragam tumbuhan dan hewan, dan juga sebagai penyedia berbagai produk hasil hutan bukan kayu, serta manfaat lainnya.

Bagi komunitas lokal seperti Orang Rimba yang hidup dalam Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD), hutan memiliki fungsi yang sangat besar bagi mereka. Selain sebagai tempat hidup dan berpenghidupan, bagi Orang Rimba hutan juga berpungsi sebagai tempat melakukan ritual adat istiadat. Sebagai sumber penghidupan, hutan merupakan tempat bagi Orang Rimba untuk berkebun, berburu, memungut Hasil Hutan Bukan Kayu/HHBK (jernang, rotan, manau, madu, dan buah-buahan), dan sumber obat-obatan tradisional. Sedangkan untuk ritual adat, hutan merupakan tempat bagi Orang Rimba melakukan kegiatan seperti : pernikahan (bebalai), pemakaman (pasoron), melahirkan (peranak’on), dan kegiatan adat lainnya. 

Pemanfaatan HHBK memberikan kontribusi ekonomi yang besar bagi Orang Rimba. Pada kondisi tertentu, seperti ketika harga getah karet sangat rendah di pasaran, HHBK menjadi sumber pendapatan utama bagi Orang Rimba. Khusus untuk buah Jernang, ketika sedang musim maka pencaharian utama keluarga Orang Rimba beralih dari menderes karet menjadi  pengumpulan buah ini. Menderes karet mereka tinggalkan untuk sementara waktu.

Pemanfaatan produk HHBK dilakukan oleh Orang Rimba masih secara tradisional. Serta upaya untuk melakukan budidaya juga belum. Rotan setelah dipanen langsung dijual kepada penampung di desa terdekat. Begitupun dengan Manau. Apabila dilakukan proses pengolahan paska panen secara sederhana seperti penggorengan, maka tentunya nilai jual  produk ini akan meningkat. Sedangkan upaya untuk melakukan budidaya Jernang tentunya perlu dilakukan agar keberlanjutan produksi terjaminkan dan peningkatan produksi didapatkan. Upaya-upaya ini tentunya perlu diinisiasi dan diperkenalkan kepada Orang Rimba mengingat besarnya kontribusi ekonomi rumah tangga dari pemanfaatan HHBK ini.

Berkaitan dengan upaya mitigasi perubahan iklim, tentunya optimalisasi pemanfaatan HHBK ini akan berkorelasi dengan arahan optimalisasi pemanfaatan lahan. Ekstensi atau perluasan pemanfaatan lahan tentunya mendorong pembukaan lahan baru. Ekstensi ini tentunya akan mengarah atau menyebabkan terjadinya pengurangan cadangan karbon. HHBK seperti Rotan dan Jernang ini merupakan jenis tanaman yang membutuhkan pohon induk untuk perkembangannya. Sehingga lokasi budidaya tanaman ini akan menjadi kantong-kantong hutan jangka panjang dan terus meningkatnya cadangan karbon.

Sebagai lembaga yang konsen terhadap upaya pengembangan praktek-praktek pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyakat lokal, salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pemberian peningkatan kapasitas. Dalam rangka memberikan dukungan peningkatan kapasitas bagi masyarakat lokal tentang pemanfaatan HHBK dan upaya untuk membudidayakannya, KKI WARSI dengan dukungan dari UNDP REDD+ Project akan menyelenggarakan pelatihan dengan tema : Pelatihan Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen Hasil Hutan Bukan Kayu Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim Bagi Orang Rimba. Kegiatan pelatihan ini akan diselenggarakan pada hari Rabu dan Kamis tanggal 6 dan 7 Mei 2015 di Pusat Informasi Perubahan Iklim, Sebapo, Jambi

 

 

PUSAT INFORMASI PERUBAHAN IKLIM

Mengupayakan terciptanya pembangunan dan pengembangan azas-azas konservasi berbasis masyarakat yang berkeadilan, berkesetaraan, partisipatif, keterbukaan dan berkelanjutan sehingga mampu memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup manusia masa kini tanpa mengancam pemenuhan kebutuhan hidup generasi berikutnya.

 

Photo Gallery

HHBK2.jpg

Visitor

Today 9

Week 31

All 1132

Loading ...